Sejarah Bakso di Nusantara, Sejak Kapan sih Bakso itu ada?

 

Salam,

Ketemu lagi deh dengan ahlinya bakso ^_^

Oh iya, sebagai orang Indonesia, tentu saja bakso sudah tidak asing lagi dong ya. Hidangan berkuah yang sangat nikmat saat disantap di suasana dingin, dan disajikan panas-panas ini, sudah familier di lidah mayoritas penduduk nusantara. Sangat mudah menemukan bakso di negara kita, mulai dari yang dijual keliling dipikul angkring, didorong gerobak, sampai yang disajikan di meja-meja makan cafe, hotel dan restoran.

Tapi pernah gak sih kepikiran untuk bertanya, sejak kapan bakso ada? Atau lebih tepatnya, bagaimana sih sejarah bakso dari semula?

 

Nah, bakso meskipun sudah sangat umum dan mudah didapat di tanah air, ternyata bukan masakan asli Indonesia lhoh. Masakan Bakso itu berasal dari China. Tepatnya di daerah Fuzhou pada abad ke-17 di akhir masa dinasti Ming.

Awal mula kemunculannya, bakso justru dibuat untuk menghidangkan masakan daging untuk manula. Manula kan biasanya memang sudah tak mampu mengunyah makanan keras dan alot. Jadi untuk membuat makanan ini, daging digiling dan dibentuk bulat-bulat padat, lalu direbus. Dan saat dimakan, daging yang seharusnya alot dan berserat jadi empuk dan tetap terasa nikmat.

Menurut pengamat kuliner Nusantara William Wongso, teknik pengolahan dengan cara seperti ini kemudian ditujukan untuk megawetkan olahan daging, mengunci protein hingga mencegah cepat basi.

Dari sana lah muncul nama Bakso, yang terdiri dari kata “bak” yang berarti daging dan “So” yang berarti sup. Jika diterjemahkan secara harafiyah “bak-so” bisa diartikan sebagai daging giling.

Lhoh, kalau dari China, bagaimana sejarahnya bisa masuk nusantara?

Jadi dalam kurun waktu beberapa abad setelah keruntuhan dinasti Ming, para imigran Tionghoa berkelana ke seluruh penjuru dunia. Salah satu tujuannya adalah Nusantara atau Indonesia kita sekarang ini. Para imigran itu juga membawa resep-resep masakan mereka ke tempat tujuan. Sebut saja nasi goreng, Soto, Lumpia atau dulu disebut Lung Pia dan yang mau kita bahas sekarang adalah bakso, yang ternyata juga dari masakan China.

Seiring berjalannya masa, bakso di nusantara semakin mendomestik. Masakan yang tadinya hanya menjadi hidangan khas imigran Tionghoa, akhirnya membaur dengan masakan lokal. Tentu saja dengan sedikit penyesuaian lidah penduduk asli Indonesia.

Karena mayoritas penduduk negara kita adalah Muslim, maka bahan utama bakso yang digunakan adalah bahan yang halal. Di antaranya daging sapi dan varian lain seperti ayam, udang, ikan, bahkan daging kerbau di daerah Kudus.

Kini, bakso sudah menjadi salah satu masakan andalan dan favorit masyarakat negara kita. Kebanyakan yang menjual kudapan ini adalah orang Jawa, khususnya orang Wonogiri dan Malang. Sedangkan pusat-pusat bakso yang terkenal antara lain Solo dengan bakso khas Solo-nya, dan kota Malang dengan bakso Malang yang sarat isian.

Dari pengolahan bakso sendiri, sekarang sudah semakin inovatif dengan pengubahan, modifikasi, variasi hingga kreasi. Dari yang semula kita kenal, hidangan bakso biasanya terdiri dari bola bakso, kuah kaldu sapi yang bening, mie, bihun, sawi hijau hingga tauge. Tapi kini bakso semakin bervariasi. Sebut saja bakso Wonogiri yang bahan sajinya hampir sama dengan masakan Soto, atau bakso Malang yang isiannya begitu variatif dengan berbagai jenis gorengan, rebusan dan lontongnya.

Bola baksonya pun bervariasi mulai dari macam isian, tekstur sampai ukuran.

Ada yang diisi dengan telur rebus, bahkan sambal untuk yang bakso mercon.

Untuk tekstur ada yang halus, ada pula yang kasar.

Sedangkan ukuran, ada yang bakso mini kecil-kecil sebesar telur puyuh hingga yang jumbo sebesar jeruk bali. Bakso beranak misalnya.

Wah ternyata panjang juga ya sejarah sampainya bakso ke tanah nusantara. Hingga berabad-abad lamanya.

Nah, dari semua sentra, jenis, variasi dan kreasi bakso di tanah air, sekarang tidak lagi didominasi oleh Solo, Wonogiri dan Malang. Daerah-daerah lain juga mulai membuat inovasi masing-masing.

Salah satunya Lamongan dengan depot Bakso Terminal 1974. Sesuai namanya, bakso di depot ini sudah melegenda sejak lama, tepatnya sejak tahun 1974. Rasanya tak perlu ditanya. Dari jumlah pengunjung yang selalu ramai saja sudah bisa jadi ukuran seberapa nikmat dan sedapnya.

Selain menyajikan bakso biasa, depot bakso ini juga menyediakan berbagai variasi bakso yang belum tentu ada di daerah lainnya. Sebut saja bakso kikil, bakso babat, bakso usus, bakso balungan hingga bakso mix25 yang memadukan semua toping. Tentu saja, setiap varian yang ditawarkan menyimpan sisi istimewa.

Belum lengkap rasanya sebagai penikmat dan penggemar bakso kalau belum merasakan sendiri varian yang disediakan di sana. Bagaimana? Yakin tak ingin mencoba?

 

Danang Kawantoro

 

Source: CNN

1 reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *