Pos

Sejarah Berdirinya Bakso Terminal 1974

Salam, kembali jumpa dengan Bakso Terminal 1974 yang melegenda. Oh iya sebelum-sebelumnya kan sudah dibahas berbagai riwayat sejarah masakan bakso, soto hingga mie ayam di tanah air ya. Yang semuanya disediakan di depot Bakso Terminal 1974. Lantas bagaimana dengan sejarah Bakso Terminal 1974 yang melegenda ini?

Penasaran? Yuk dilanjut, dijamin tak bosan dan tak bikin ngantuk. Karena sejarah Bakso Terminal 1974 ini sarat akan perjuangan yang layak ditiru, semangat berusaha yang patut diteladani dan hikmah besar yang bisa diambil.

Beliau lah Bapak Akhwan Taufan, asli kelahiran Desa Simbatan Kecamatan Sarirejo Kabupaten Lamongan. Bapak Akhwan memulai usahanya berjualan bakso di pasar Blimbing di desa Blimbing kecamatan Paciran kabupaten Lamongan sejak 1971. Awal mulanya beliau adalah seorang pegawai bank pasar yang ditempatkan di Pasar Blimbing. Di sana lah beliau tinggal satu atap dengan para penjual bakso di desa Blimbing. Setiap pagi sebelum berangkat kerja beliau sering ikut membantu teman kosnya menumbuk daging untuk dihaluskan agar dapat diaduk dengan tepung untuk dijadikan pentol bakso. Saking seringnya, beliau jadi tahu betul cara membuat pentol walaupun waktu itu masih manual tanpa mesin penggiling atau pengolah daging.

Hampir setiap pagi saat akan berangkat masuk kantor beliau selalu dapat gurauan “Wan sepatumu bagus tapi isi dompetmu tidak sebagus sepatumu, lebih baik jual bakso sepatu jelek tapi isi dompet bagus,” Gurauan-gurauan seperti itu sering muncul dan terdengar di kos kosan beliau.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, beliau memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya dan memulai berjualan bakso. Awalnya hanya mendorong gerobak tanpa punya lokasi tetap. Saking banyaknya penjual bakso di Blimbing, beliau mencari peluang di tempat lain, dan Desa Laren menjadi pilihan untuk mencoba lokasi baru. Pada tahun 1974 beliau memulai jualan bakso di Laren, saat itu masih ngekos dan masih mendorong gerobak. Sampai suatu ketika bisa menempati salah satu kios di Pasar Pahing (pasar yang hanya ada 5 hari sekali) dan di beri nama Terminal Bakso.

Alhamdulillah bisa berkembang sampai saat ini.Bapak Akhwan selain punya usaha Depot Terminal Bakso, kini juga memiliki pengilingan daging sendiri, toko perlengkapan bumbu, alat bakso, dan Rumah Makan Terminal Bakso yang dilengkapi gedung pertemuan yang luas. Rumah makan itu kemudian dikelola oleh putranya bernama Taufan Ichwanto, sedangkan rumah durian dikelola oleh putrinya yang bernama Tatik Istiana.

Pada tanggal 20 juni 2016, Depot Terminal Bakso yang berada di Jl. Raya Pasar Pahing Desa Laren – Kecamatan Laren – Kabupaten Lamongan pengelolaanya dilanjutkan oleh penerusnya yang bernama Afiyan Ardianto. Setelah itu sistem manajemennya mulai dibangun dan ditata agar bisa dikembangkan dengan lebih baik, namun karena nama merk Terminal Bakso terlambat didaftarkan ke HKI, maka pada tanggal 03 Maret 2017 nama Terminal Bakso diubah menjadi Bakso Terminal 1974. Dengan harapan dengan nama baru ini usaha yang dirintis bapak Akhwan ini lebih fresh dan bisa berkembang tanpa hambatan.

Bakso Terminal 1974 yang sudah melegenda sejak tahun 1974 ini, seiring perkembangannya menyajikan hidangan bakso yang dibuat dari daging sapi berkualitas super, diolah dengan resep khas Lamongan warisan keluarga, dan tetap mempertahankan “Cita Rasa” dengan berbagai pilihan menu bakso favorit untuk semua. Selain bakso, depot ini juga menyajikan Soto khas Lamongan yang rasanya membuat ketagihan dan Mie Ayam andalan.

Dengan reputasinya yang bagus dan keunggulan rasanya, Bakso Terminal mampu bertahan dan mengembangkan diri sekian lama hingga telah membuka beberapa outlet cabang. Dengan visi dan misi untuk menciptakan banyak lapangan usaha dan lapangan pekerjaan baru, Bakso Terminal 1974 kini mulai mengembangkan sayapnya dengan membuka kemitraan cabang baru.

Bagi yang sedang ke Lamongan, atau sekedar lewat, bisa nih dicoba sendiri. Pssst harus buru-buru biar kebagian antrian, saking ciamiknya depot membludak pengunjungnya. Bagaimana tidak? Selain hidangannya yang sedap, depot ini sering memberikan promo, mulai dari diskon sampai makan bakso gratis. Sip banget kan?

Nih, jangan lupa LIKE fanpagenya juga di FB https://www.facebook.com/baksoterminal1974/

dan follow Instagramnya di https://www.instagram.com/baksoterminal1974/

DK

Bakso Original yang Terkenal di Depot Bakso Terminal 1974

Hai hai hai semua, kembali lagi di dunia bakso.

Siapa sih yang tak mengenal hidangan sedap yang bernama bakso? Begitu mudah kita temukan dimana-mana, mulai dari yang dijual dengan gerobak, di kedai maupun kafe mewah. Keberadaannya pun sudah turun temurun sejak lama, dan menjadi begiu familier di lidah orang-orang Indonesia. Mulai dari yang balita, anak-anak, remaja, dewasa, paruh baya hingga manula bisa menikmatinya. Karena meskipun terbuat dari daging, tapi digiling dan diolah dengan campuran tepung pati yang membuatnya mudah dikunyah dan dicerna.

Yang paling umum kita kenal, hidangan bakso biasanya terdiri dari komponen utama berupa bola bakso, kuah bening dari kaldu sapi, mie, bihun, sawi hijau, taburan daun bawang, taburan bawang merah goreng dan lain-lain. Kreasi lain masih memungkinkan kah? Masih donk, kreasi kuliner nusantara kita itu betul-betul luas tak terbatas. Selalu ada kreasi dan inovasi baru pada setiap resepnya.

Tapi sebelum kita bahas yang lebih kompleks, kita bahas dulu yang paling original dari hidangan bakso itu sendiri. Sesuai dengan namanya “Bakso” yang berasal dari kata “Bak” yang berarti daging giling dan “So” yang berarti sup, maka bahan utama dari hidangan ini adalah daging yang digiling dan kuah sup. Nah, khusus bakso khas negeri kita, daging gilingnya dicampur dengan tepung pati, agar padat namun kenyal. Jadinya ya bola-bola bakso seperti yang kita kenal.

Bahan satunya adalah kuah sup. Kuah sup untuk bakso dibuat dari kaldu daging sapi, alias air rebusan daging. Atau terkadang juga bisa didapatkan dari rebusan tulangnya yang tak kalah sedap aromanya. Bisa dikira-kira, dagingnya saja enak, apalagi sari pati daging yang sudah luruh di kuah rebusannya. Sedapnya kaldu daging masih ditambah bumbu-bumbu rempah seperti lada, bawang putih, bawang merah dan bumbu-bumbu tambahan lainnya sesuai selera. Kuah kaldu ini biasanya disajikan panas-panas dan disiramkan ke atas bola-bola bakso.

Lalu bagaimana dengan mie, bihun, sawi dan lain-lain? Itu termasuk toping saja alias tambahan yang opsional. Lagipula, bakso tak terbatas penyajiannya. Jadi mau dipadu padankan dengan toping apa saja tak masalah.

Tapi cara terbaik untuk merasakan kelezatan bakso memang dengan memilih sajian yang paling inti. Bakso, kuah kaldu plus bihun, mie dan taburan daun bawang. Dengan demikian rasa original bakso akan terasa semakin mantap.

Nah, untuk menikmati bakso format original ada banyak tempat yang bsa disambangi. Salah satunya Depot Bakso Terminal 1974 di Lamongan. Depot ini menyajikan menu legendaris: Bakso Original. Sesuai namanya, bakso original ini sudah melegenda sejak 1974, tahun berdirinya. Apa sih kelebihannya yang bikin ketagihan? Banyak, mulai dari kuah kaldunya yang sedap memikat, baksonya yang kenyal, toping dan isiannya semua istimewa. Penasaran kan? Buktikan sendiri deh rasanya. Dijamin pengen nambah lagi dan lagi.

 

Danang Kawantoro

Sejarah Bakso di Nusantara, Sejak Kapan sih Bakso itu ada?

 

Salam,

Ketemu lagi deh dengan ahlinya bakso ^_^

Oh iya, sebagai orang Indonesia, tentu saja bakso sudah tidak asing lagi dong ya. Hidangan berkuah yang sangat nikmat saat disantap di suasana dingin, dan disajikan panas-panas ini, sudah familier di lidah mayoritas penduduk nusantara. Sangat mudah menemukan bakso di negara kita, mulai dari yang dijual keliling dipikul angkring, didorong gerobak, sampai yang disajikan di meja-meja makan cafe, hotel dan restoran.

Tapi pernah gak sih kepikiran untuk bertanya, sejak kapan bakso ada? Atau lebih tepatnya, bagaimana sih sejarah bakso dari semula?

 

Nah, bakso meskipun sudah sangat umum dan mudah didapat di tanah air, ternyata bukan masakan asli Indonesia lhoh. Masakan Bakso itu berasal dari China. Tepatnya di daerah Fuzhou pada abad ke-17 di akhir masa dinasti Ming.

Awal mula kemunculannya, bakso justru dibuat untuk menghidangkan masakan daging untuk manula. Manula kan biasanya memang sudah tak mampu mengunyah makanan keras dan alot. Jadi untuk membuat makanan ini, daging digiling dan dibentuk bulat-bulat padat, lalu direbus. Dan saat dimakan, daging yang seharusnya alot dan berserat jadi empuk dan tetap terasa nikmat.

Menurut pengamat kuliner Nusantara William Wongso, teknik pengolahan dengan cara seperti ini kemudian ditujukan untuk megawetkan olahan daging, mengunci protein hingga mencegah cepat basi.

Dari sana lah muncul nama Bakso, yang terdiri dari kata “bak” yang berarti daging dan “So” yang berarti sup. Jika diterjemahkan secara harafiyah “bak-so” bisa diartikan sebagai daging giling.

Lhoh, kalau dari China, bagaimana sejarahnya bisa masuk nusantara?

Jadi dalam kurun waktu beberapa abad setelah keruntuhan dinasti Ming, para imigran Tionghoa berkelana ke seluruh penjuru dunia. Salah satu tujuannya adalah Nusantara atau Indonesia kita sekarang ini. Para imigran itu juga membawa resep-resep masakan mereka ke tempat tujuan. Sebut saja nasi goreng, Soto, Lumpia atau dulu disebut Lung Pia dan yang mau kita bahas sekarang adalah bakso, yang ternyata juga dari masakan China.

Seiring berjalannya masa, bakso di nusantara semakin mendomestik. Masakan yang tadinya hanya menjadi hidangan khas imigran Tionghoa, akhirnya membaur dengan masakan lokal. Tentu saja dengan sedikit penyesuaian lidah penduduk asli Indonesia.

Karena mayoritas penduduk negara kita adalah Muslim, maka bahan utama bakso yang digunakan adalah bahan yang halal. Di antaranya daging sapi dan varian lain seperti ayam, udang, ikan, bahkan daging kerbau di daerah Kudus.

Kini, bakso sudah menjadi salah satu masakan andalan dan favorit masyarakat negara kita. Kebanyakan yang menjual kudapan ini adalah orang Jawa, khususnya orang Wonogiri dan Malang. Sedangkan pusat-pusat bakso yang terkenal antara lain Solo dengan bakso khas Solo-nya, dan kota Malang dengan bakso Malang yang sarat isian.

Dari pengolahan bakso sendiri, sekarang sudah semakin inovatif dengan pengubahan, modifikasi, variasi hingga kreasi. Dari yang semula kita kenal, hidangan bakso biasanya terdiri dari bola bakso, kuah kaldu sapi yang bening, mie, bihun, sawi hijau hingga tauge. Tapi kini bakso semakin bervariasi. Sebut saja bakso Wonogiri yang bahan sajinya hampir sama dengan masakan Soto, atau bakso Malang yang isiannya begitu variatif dengan berbagai jenis gorengan, rebusan dan lontongnya.

Bola baksonya pun bervariasi mulai dari macam isian, tekstur sampai ukuran.

Ada yang diisi dengan telur rebus, bahkan sambal untuk yang bakso mercon.

Untuk tekstur ada yang halus, ada pula yang kasar.

Sedangkan ukuran, ada yang bakso mini kecil-kecil sebesar telur puyuh hingga yang jumbo sebesar jeruk bali. Bakso beranak misalnya.

Wah ternyata panjang juga ya sejarah sampainya bakso ke tanah nusantara. Hingga berabad-abad lamanya.

Nah, dari semua sentra, jenis, variasi dan kreasi bakso di tanah air, sekarang tidak lagi didominasi oleh Solo, Wonogiri dan Malang. Daerah-daerah lain juga mulai membuat inovasi masing-masing.

Salah satunya Lamongan dengan depot Bakso Terminal 1974. Sesuai namanya, bakso di depot ini sudah melegenda sejak lama, tepatnya sejak tahun 1974. Rasanya tak perlu ditanya. Dari jumlah pengunjung yang selalu ramai saja sudah bisa jadi ukuran seberapa nikmat dan sedapnya.

Selain menyajikan bakso biasa, depot bakso ini juga menyediakan berbagai variasi bakso yang belum tentu ada di daerah lainnya. Sebut saja bakso kikil, bakso babat, bakso usus, bakso balungan hingga bakso mix25 yang memadukan semua toping. Tentu saja, setiap varian yang ditawarkan menyimpan sisi istimewa.

Belum lengkap rasanya sebagai penikmat dan penggemar bakso kalau belum merasakan sendiri varian yang disediakan di sana. Bagaimana? Yakin tak ingin mencoba?

 

Danang Kawantoro

 

Source: CNN